SEJATIDIMEDIA Logo
Tersedia Sesi Konsultasi Gratis
SejatiDimedia Logo

Bikin AI yang Bisa "Baca" Website dalam Hitungan Detik

Sejauh ini kita udah bahas gimana AI itu pelupa (Part 1), gimana dia baca teks lewat token (Part 2), dan pilihan provider mana yang cocok buat kebutuhan kamu (Part 3). Sekarang saatnya gabungin semua pemahaman itu jadi sesuatu yang beneran bisa dipakai, tools yang bisa ambil isi sebuah halaman website dan langsung ngerangkumnya jadi ringkasan singkat dalam hitungan detik. Artikel ini bahas gimana proses "mengambil" isi website itu bekerja, kenapa nggak semua website segampang itu dibaca, dan gimana ngegabungin hasilnya sama AI biar jadi produk yang beneran berguna, plus contoh contoh use case yang bisa langsung kamu tawarin ke klien.

Timur Dian Radha Sejati

Timur Dian Radha Sejati

Founder SejatiDimedia•15 September 2026•5 menit baca
Silabus Seri Rekayasa

Cara Kerja AI di Balik Layar

Banyak dari kita pakai AI tiap hari, tapi jarang tahu apa yang sebenarnya terjadi begitu tombol submit ditekan. Seri tulisan ini mencoba membedah isi kepala mesin tersebut—tanpa istilah rumit yang bikin pusing. Kita bakal bahas pelan-pelan dari mana datanya berasal, logika di balik jawabannya, dan batasan nyata dari teknologi ini.

Lihat Silabus Lengkap
Bikin AI yang Bisa "Baca" Website dalam Hitungan Detik

Dari Mana Sebenarnya Ide "AI yang Bisa Baca Website" Ini Muncul?

Coba bayangin skenario ini. Kamu lagi riset kompetitor, ada belasan halaman website yang harus kamu baca satu satu buat ngerti produk mereka, harga, sama fitur unggulannya. Kalau dikerjain manual, bisa makan waktu berjam jam cuma buat baca dan nyatet poin poin pentingnya.

Sekarang bayangin kalau proses itu bisa dipangkas jadi, kamu kasih link website-nya, terus dalam beberapa detik udah dapet ringkasan rapi tentang apa isi website itu. Ini bukan fitur ajaib yang cuma ada di produk mahal, ini sebenarnya kombinasi dari dua hal sederhana yang udah kita bahas sebelumnya, kemampuan ambil konten dari halaman web, digabung sama kemampuan AI buat merangkum teks panjang jadi singkat.

Langkah Pertama: Gimana Caranya "Ambil" Isi Sebuah Website?

Sebelum AI bisa ngerangkum apapun, dia butuh bahan mentah dulu, yaitu teks yang ada di halaman website tersebut. Proses ngambil konten dari halaman web ini disebut web scraping.

Cara kerjanya secara garis besar begini. Ada permintaan yang dikirim ke alamat website tersebut, mirip kayak waktu kamu buka website lewat browser, cuma bedanya ini dilakukan lewat kode, bukan manual klik klik. Setelah dapet balasan dari server website itu, yang biasanya berbentuk kode HTML mentah (kode yang biasanya nggak enak dibaca manusia karena penuh tanda kurung sudut dan istilah teknis), ada alat lain yang tugasnya "membersihkan" kode itu, misahin mana yang teks beneran yang mau dibaca manusia, dan mana yang cuma kode struktur tampilan yang nggak penting buat diringkas.

Alat yang biasa dipakai buat proses "membersihkan" ini salah satunya bernama BeautifulSoup, yang kerjanya kayak asisten yang nyortir tumpukan kertas berantakan, terus cuma ngasih kamu bagian bagian yang beneran isinya teks bacaan, bukan kode pembungkusnya.

Ternyata Nggak Semua Website Segampang Itu Dibaca

Nah ini bagian yang sering bikin kaget orang yang baru coba coba bikin tools kayak gini. Cara sederhana tadi cukup ampuh buat website website yang strukturnya "klasik", di mana konten teksnya emang udah ada langsung di kode HTML pas halaman itu dimuat.

Tapi banyak website modern sekarang dibangun dengan cara yang berbeda, kontennya nggak langsung ada di kode HTML awal, melainkan baru "dimunculkan" belakangan lewat proses tambahan yang jalan di browser, biasanya pakai teknologi semacam React atau sejenisnya. Buat website tipe ini, cara sederhana tadi bisa gagal total, soalnya pas kode dibaca, teks yang mau diambil belum benar benar "muncul" di situ.

Buat kasus kayak gini, dibutuhkan pendekatan yang lebih canggih, pakai alat semacam Selenium atau Playwright, yang cara kerjanya beneran "membuka" halaman itu kayak browser sungguhan, nunggu semua konten selesai dimuat, baru abis itu ambil teksnya. Ini butuh sumber daya lebih besar dan agak lebih rumit dibanding cara sederhana tadi, tapi diperlukan buat website website yang emang dibangun dengan cara modern kayak gitu.

Poin pentingnya di sini, kalau kamu nawarin fitur "AI yang bisa baca website apapun" ke klien, penting buat sadar bahwa nggak semua website itu "gampang" dibaca dengan cara yang sama, dan ini bisa ngefek ke seberapa rumit dan berapa lama waktu pengerjaan yang dibutuhkan.

Langkah Kedua: Ngasih Konteks yang Jelas ke AI

Setelah teks berhasil diambil dari halaman website, langkah berikutnya adalah nyusun instruksi yang jelas buat AI, biar hasil ringkasannya beneran berguna, bukan cuma asal potong sebagian kalimat.

Di sinilah pemahaman soal anatomi prompt jadi kepake. Biasanya ada dua bagian, system prompt, yang isinya instruksi soal gimana AI harus berperilaku dan format apa yang diharapkan, misalnya "kamu adalah asisten yang meringkas konten website jadi poin poin singkat dan jelas, abaikan bagian navigasi atau iklan", dan user prompt, yang isinya teks mentah hasil scraping tadi, yang mau diringkas.

Kualitas instruksi di system prompt ini ternyata ngaruh banget ke hasil akhirnya. Instruksi yang cuma bilang "ringkas ini" bakal ngasih hasil yang jauh lebih generik dibanding instruksi yang lebih spesifik, misalnya minta AI fokus ke informasi produk dan harga, sambil ngabaikan bagian bagian yang nggak relevan kayak menu navigasi atau footer yang isinya cuma alamat dan link sosial media.

Studi Kasus: Website Summarizer sampai Company Brochure Generator

Kombinasi dua langkah di atas, ambil konten dan minta AI ringkas, itu sendiri udah cukup buat bikin tools "Website Summarizer" yang berguna. Tapi ternyata ide ini bisa dikembangin lebih jauh lagi jadi sesuatu yang lebih canggih, yang biasa disebut alur kerja bertahap, atau istilah kerennya multi-step pipeline.

Contohnya begini. Bayangin kamu mau bikin tools yang otomatis nyusun profil perusahaan lengkap cukup dari satu alamat website utama perusahaan itu. Alurnya bisa dipecah jadi beberapa langkah berurutan:

Langkah satu, ambil konten dari halaman utama website, sekalian ambil semua link yang ada di halaman itu.

Langkah dua, daripada langsung asal buka semua link yang ketemu (yang bisa aja isinya cuma link ke syarat dan ketentuan atau kebijakan privasi yang nggak penting), minta AI buat milihin dulu link mana aja yang kelihatannya relevan, misalnya link ke halaman "tentang kami", halaman produk, atau halaman karir. Di sini AI diminta ngasih jawaban dalam format terstruktur yang gampang diproses program, bukan sekadar teks bebas, biar hasil pilihannya bisa langsung dipakai di langkah berikutnya secara otomatis.

Langkah tiga, ambil konten dari link link yang udah dipilih tadi satu per satu.

Langkah empat, gabungin semua konten yang udah terkumpul, terus minta AI nyusun jadi satu dokumen profil perusahaan yang rapi dan komprehensif.

Ini contoh bagus soal gimana beberapa panggilan AI yang sederhana, kalau disusun berurutan dengan alur yang jelas, bisa menghasilkan sesuatu yang jauh lebih kompleks dan berguna dibanding satu panggilan tunggal. Ini juga jadi fondasi awal buat konsep yang lebih besar lagi, yaitu AI agent, yang bakal disinggung lebih jauh di Part 5.

Kenapa Ini Berguna Banget Buat Kamu yang Jalanin Agency

Tools semacam ini punya banyak potensi jadi produk kecil yang bisa langsung ditawarin ke klien, dan nggak butuh waktu pengembangan yang lama. Beberapa contoh use case nyata:

Riset kompetitor otomatis, klien tinggal masukin daftar link kompetitor, sistem otomatis ambil dan ringkas informasi produk, harga, dan fitur unggulan mereka, tanpa harus baca manual satu satu.

Pembuatan draft konten awal, misalnya draft profil perusahaan atau deskripsi produk, yang diambil dari konten website yang udah ada, terus disusun ulang jadi format lain yang dibutuhkan.

Monitoring perubahan konten, versi yang lebih lanjut bisa dipakai buat ngecek berkala apakah ada perubahan penting di website kompetitor atau partner bisnis, terus otomatis ngasih ringkasan perubahannya.

Yang bikin ini menarik buat ditawarin sebagai jasa, biayanya relatif terjangkau buat dibangun (karena secara teknis nggak terlalu rumit dibanding fitur AI yang lain), tapi manfaat yang dirasain klien cukup nyata karena beneran ngehemat waktu kerja manual mereka.

Yang Perlu Diingat

  • Web scraping adalah proses ngambil dan membersihkan konten teks dari sebuah halaman website, biasanya pakai alat seperti BeautifulSoup
  • Website modern yang kontennya dimuat lewat proses tambahan di browser (seperti React) butuh alat yang lebih canggih seperti Selenium atau Playwright buat bisa diambil kontennya
  • Kualitas instruksi di system prompt sangat menentukan seberapa berguna hasil ringkasan yang dihasilkan AI
  • Beberapa panggilan AI sederhana yang disusun berurutan (multi-step pipeline) bisa menghasilkan sesuatu yang jauh lebih kompleks, seperti generator profil perusahaan otomatis
  • Tools semacam ini relatif murah dibangun tapi manfaatnya nyata, cocok jadi produk atau jasa awal yang bisa ditawarkan ke klien

Lanjut ke Part 5

Di part terakhir series ini, kita bakal ambil satu langkah lebih jauh dari sekadar "AI yang ngerjain satu tugas dalam satu alur tetap". Kita bakal bahas gimana konsep menyusun beberapa langkah berurutan tadi jadi cikal bakal dari sesuatu yang lebih besar dan lagi ramai dibicarakan, yaitu AI agent, entitas AI yang bisa "mikir" langkah apa yang perlu diambil selanjutnya, bukan cuma ngikutin alur yang udah ditentuin dari awal.


Bagian dari series "Cara Kerja AI di Balik Layar". Ditulis buat siapa pun yang mau paham AI tanpa harus jadi engineer dulu.

Topik Terkait:LaravelArchitecture
Timur Dian Radha Sejati

Timur Dian Radha Sejati

Penulis & Lead Engineer

Software engineer dan konsultan sistem di SejatiDimedia. Berfokus pada perancangan arsitektur berkinerja tinggi, refactoring backend skala enterprise, hingga pengembangan aplikasi mobile, web modern dan integrasi AI.

Punya Masalah Arsitektur atau Ingin Membangun Sistem yang Benar?

Kami siap membantu mengaudit kode, me-refactor arsitektur yang lemot, atau membangun aplikasi bisnis Anda dengan standar enterprise sejak awal.

EKSPLORASI LANJUTAN

Artikel Rekayasa Terkait

Lihat Semua
Dari Satu Perintah Jadi Banyak Langkah
AI
5 menit baca

Dari Satu Perintah Jadi Banyak Langkah

Ini part penutup dari series "Cara Kerja AI di Balik Layar". Setelah paham AI itu pelupa (Part 1), cara dia baca teks lewat token (Part 2), pilihan provider yang ada (Part 3), dan gimana gabungin AI sama web scraping (Part 4), sekarang saatnya narik semuanya jadi satu gambaran besar, gimana sebenarnya konsep "AI agent" yang lagi rame dibahas itu terbentuk. Artikel ini bahas bedanya AI yang cuma jawab satu pertanyaan sama AI yang bisa "bekerja" lewat banyak langkah, kenapa ini disebut titik awal dari agentic AI, dan gimana pemahaman ini bisa jadi modal buat kamu nawarin jasa yang levelnya lebih tinggi ke klien.

Baca Artikel
Kenalan sama GPT, Gemini, Claude, sampai yang Gratis (Ollama)
AI
5 menit baca

Kenalan sama GPT, Gemini, Claude, sampai yang Gratis (Ollama)

Banyak orang ngira semua AI itu sama aja, tinggal pilih yang paling terkenal terus pakai. Padahal tiap provider AI punya karakter, kekuatan, dan harga yang beda beda, dan ada juga opsi jalanin AI sepenuhnya gratis di komputer sendiri. Artikel ini bahas gimana caranya berbagai provider AI itu sebenarnya bisa "disamain" cara manggilnya lewat satu standar yang sama, kenalan sama pemain pemain besar kayak OpenAI, Google, Anthropic, dan DeepSeek, sampai gimana caranya jalanin model AI lokal pakai Ollama tanpa keluar biaya API sepeser pun. Di akhir, ada panduan simpel buat nentuin provider mana yang paling masuk akal buat kebutuhan proyek kamu.

Baca Artikel
Gimana Sebenarnya AI "Membaca" Tulisan Kita
AI
11 menit baca

Gimana Sebenarnya AI "Membaca" Tulisan Kita

Kita sering mikir AI baca tulisan kita kayak manusia baca, kata per kata. Padahal nggak gitu. AI sebenarnya mecah tulisan jadi potongan potongan kecil yang disebut token, dan potongan ini nggak selalu sama sama satu kata utuh. Artikel ini bahas apa itu token, gimana proses pemecahannya bekerja, kenapa bahasa Indonesia bisa lebih "mahal" diproses dibanding bahasa Inggris, kenapa satuan token ini yang jadi dasar hitungan biaya API, sampai strategi praktis buat ngatur biaya dan batasan token pas kamu bikin fitur AI buat produk atau klien kamu.

Baca Artikel